33.2 C
Jakarta

Umat Khilafahers, Muslim Indonesia dan Masa Depan Bangsa

Artikel Trending

Kita sudah banyak berbicara mengenai Abu Bakar Ba’asyir. Tetapi tidak menutup kemungkinan, agenda berdirinya khilafah banyak yang menyangkal. Dalam arti, benarkah khilafah masih menjadi agenda internasional, sementara banyak umat khilafahers yang sudah gugur. Hamzah bin Laden tewas. Mertuanya, Abu Muhammad al-Masri, juga tewas. Pemimpin Al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri, meninggal setelah terinfeksi penyakit pernapasan yang mirip dengan asma.

Dilansir dari Combating Terrorism Center (CTC), Muhamad Silah al-Din al-Halim Zeidan alias Saif al-‘Adl digadang-gadang akan menjadi The Last Hope pucuk kepemimpinan Al-Qaeda. Syam, Khurasan, dan Yaman menjadi target jihad global. Kesolidan para pejuang khilafah di ranah internasional boleh jadi karena Letters from Abbottabad, kumpulan 17 surat yang ditulis oleh Usamah bin Ladin, juga tokoh penting Al-Qaeda pusat lainnya.

Letters from Abbottabad menjadi literatur kajian umat Islam dalam bidang jihad kontemporer. Karena itu, sudah pasti Abu Bakar Ba’asyir juga berpegangan terhadap surat tersebut pada setiap sepak terjangnya. Termasuk, blusukan yang kita bicarakan kemarin. Kaum khilafahers di ranah nasional dan internasional memiliki guide book dalam rangka merealisasikan nubuat ihwal jihad kekhilafahan. Tugas nasional, sementara itu, adalah mempersatukan umat: umat khilafahers.

Jadi sebenarnya yang terpenting bukanlah tahun berapa khilafah akan tegak. Yang terpenting adalah bagaimana jika Muslim di Indonesia banyak terpengaruh: akan seperti apa masa depan bangsa. Sementara di level wacana, keislaman kita benar-benar tengah bersaing: eksklusivisme vs inklusivisme—untuk tidak mengatakan moderat vs radikal. Ini tentu menjadi sesuatu yang mesti kita perhatikan. Jangan sampai, seluruh Muslim Indonesia menjadi umat khilafahers.

Umat Khilafahers: Tarung Wacana Keislaman

Anggap saja ini tarung teks dengan konteks. Bahwa Nabi Muhammad Saw menubuatkan khilafah Islam akan tegak suatu waktu, itu benar. Namun, redaksi yang Nabi pakai, yaitu bendera-bendera hitam dari arah Timur (الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ المَشْرِقِ), masih mujmal. Nabi tidak secara spesifik menyebut bahwa bendera hitam adalah Al-Qaeda, ISIS, dll, juga tidak menyebut bahwa timur yang beliau maksud adalah Syam, Khurasan, atau Yaman.

Umat khilafahers terus bernaung di bawah nubuat yang maknanya masih global tersebut. Bahkan jika kita melihat bagaimana Al-Qaeda selalu ada di garda terdepan jihad global, yang di Indonesia bisa kita lihat melalui sosok Abu Bakar Ba’asyir dan Aman Abdurrahman, itu karena mereka yakin sebagai representasi umat serta lanjutan nubuat Nabi: berbaiatlah walaupun dengan merangkak di atas salju (فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْواً عَلَى الثّلْجِ).

Sementara secara kontekstual, pemahamannya tidak demikian. Rata-rata cendekiawan Muslim Indonesia bertolak pada pemahaman bahwa hadis Nabi tentang akhir zaman merupakan perkara gaib, yang tidak bisa kita buat interpretasi seenaknya. Begitupun keyakinan umat khilafahers bahwa Indonesia negara thaghut, karena sistem pemerintahannya meniru kafir-salibis Amerika dan Eropa, secara kontekstual keliru. Dan justru, khilafah ala Al-Qaeda, ISIS, HT, dll, itu tergolong sistem monarki, bukan khilafah ala minhaj al-nubuwwah.

Interpretasi teks dan konteks yang demikian, terus bergulir dan mewarnai diskursus dan tarung wacana keislaman tanah air. Thaghutisasi Indonesia juga kuat dari orang-orang seperti Ba’asyir dan Aman, yang pada akhirnya bertransformasi menjadi populisme Islam. Populisme kemudian seolah menjadi senjata umat Islam. Pada saat sama, wawasan keislaman dan keindonesiaan yang digagas oleh para pemikir Muslim Indonesia seolah tenggelam dalam pertarungan wacana.

BACA JUGA  Kelicikan Aktivis HTI di Balik Polemik FPI vs Pemerintah

Ironi. Ini tidak bisa kita biarkan. Demi mencegah ulah buruk umat khilafahers, masing-masing warga negara Indonesia—terutama Muslim—memiliki tugas untuk menjadi umat penjaga bangsa.

BACA JUGA  Teroris Jama’ah Islamiyah Kembali Tersenyum Pada Yaqut

Menjadi Umat Penjaga Bangsa

Menjadi umat yang saleh ritual, apalagi ritual-tekstual, di Indonesia, jelas tidak cukup. Saleh sosial merupakan keniscayaan, dan justru ini yang kerap kali terlupakan. Bangsa ini adalah bangsa yang majemuk. Jika kita mengikuti pesan Abu Bakar Ba’asyir dalam safari ideologisnya ke pesantren-pesantren beberapa waktu lalu, untuk saling mengeratkan hubungan sesama Muslim saja, jangan kepada non-Muslim, akibatnya akan buruk.

Akan terjadi ketidakharmonisan. Akan mengundang diskriminasi sosial terhadap pemeluk agama selain Islam di bangsa ini. Apakah itu yang kaum khilafahers inginkan; menanamkan kebencian sesama warga negara? Jika khilafah belum tegak saja sudah menginstruksikan kelas sosial berdasarkan agama, bagaimana setelah nanti deklarasi—jika itu benar terjadi? Di sini kemudian menjadi Muslim Indonesia yang punya wawasan kebangsaan yang baik menjadi keharusan.

Orang-orang seperti Abu Bakar Ba’asyir dan golongan umat khilafahers secara keseluruhan memang sulit kita berangus total. Akan terus berlahiran generasi yang baru. Tugas kita ialah menjadi umat penjaga bangsa dari gangguan umat khilafahers. Mau 2024, 2045, atau kapan pun, khilafah tidak akan tegak jika Muslim di Indonesia memainkan perannya dengan baik: menengahi pemahaman tekstual terhadap nubuat, menghalangi tumbuhnya eksklusivisme seperti yang Ba’asyir ajarkan, melakukan kontra-narasi ideologi transnasional.

Umat khilafahers dan Muslim Indonesia berada dalam relasi diametral. Yang satu ingin merusak bangsa, dan satu lainnya menjaga bangsa. Muslim Indonesia adalah identitas keberagamaan yang inklusif dan kontekstual. Orang seperti Abu Bakar Ba’asyir itu bukan Muslim Indonesia, melainkan orang Islam dari Indonesia yang durhaka kepada Indonesia itu sendiri. Atas nama kemanusiaan, ia bisa bebas berdakwah lagi. Tidak ditindak. Tetapi dirinya memang tidak tahu berterima kasih, karena sudah kadung menjadi umat khilafahers sejati.

Karenanya, demi masa depan bangsa, kita sebagai Muslim Indonesia harus mengonter keras segala siasatnya. Tidak ada toleransi untuk umat khilafahers. Jangan sampai, umat Muslim Indonesia juga ikutan jadi umat khilafahers. Na’udzubillah.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru