28 C
Jakarta

Ternyata Islam Radikal Sudah Muncul pada Masa Nabi

Artikel Trending

Perkataan Nabi Muhammad Saw. benar-benar menjadi kenyataan sampai zaman digital sekarang. Nabi berkata kepada para sahabatnya, bahwa suatu saat nanti akan ada orang yang membaca Al-Qur’an hanya sampai di tenggorokannya. Perkataan ini disampaikan setelah beliau marah karena perkataan Dzul Khuwaisyirah yang menuduh Nabi tidak berbuat adil.

Dzul Khuwaisyirah menuduh Nabi Muhammad tidak adil membagikan harta rampasan perang. Muka Nabi memerah dan Nabi menegaskan, bahwa jika Nabi sendiri tidak bisa berbuat adil, lalu siapa yang lebih adil dari beliau. Dzul Khuwaisyirah kemudian pergi meninggalkan Nabi.

Tuduhan Dzul Khuwaisyirah menunjukkan cara berpikirnya yang tertutup. Dia hanya melihat sikap Nabi berdasarkan egonya sendiri, apa yang dia lihat, dan apa yang dia tahu. Dia tidak melihat maksud di balik sikap Nabi tersebut. Sehingga, dia gampang menuduh Nabi dengan perkataan yang kasar (radikal). Padahal, Nabi membagikan harta rampasan perang itu dengan adil.

Sikap Dzul Khuwaisyirah telah diwariskan kepada generasi berikutnya. Sesudah Nabi wafat, tepatnya pada kepemerintahan Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib, muncul kelompok Khawarij. Seperti maknanya keluar Khawarij keluar dari barisan Ali untuk membentuk barisan sendiri guna menyerang Ali dan Muawiyah dengan tuduhan kafir karena dua sahabat ini sepakat atas tahkim. Khawarij menuduh kafir karena mereka berdua mengambil suatu keputusan di luar ketentuan Tuhan.

Tragisnya, kelompok Khawarij, bukan hanya mengkafirkan, melainkan pula menggiring narasi ekstremis yang menghalalkan darah Ali dan Muawiyah dibunuh. Mindset dan tindakan Khawarij jelas dapat dikategorikan sebagai terorisme. Terorisme termasuk paham yang diawali dengan pikiran tertutup dan pengkafirkan (takfiri) terhadap kelompok lain yang tidak sepaham dan sekeyakinan. Jelas, terorisme sangat berbahaya.

Sikap Khawarij yang belakangan ini dikembangkan dalam aksi-aksi terorisme benar-benar telah meresahkan masyarakat di penjuru dunia. Saking banyaknya orang Islam yang terjebak propaganda terorisme, orang non-muslim menuduh Islam itu terorisme. Padahal, tuduhan itu tidak dapat dibenarkan. Karena, sejatinya bukan terorisme dan jelas Islam mengecam tindakan teror.

BACA JUGA  Bagi Gus Baha, Islam itu Fleksibel dan Luwes

Islam adalah agama yang menebarkan cinta dan kasih terhadap seluruh makhluk. Islam bahkan termasuk agama yang sangat terbuka terhadap perkembangan. Sehingga, dengannya lahirlah Islam progresif sebagai bentuk dari adaptasi Islam dengan perkembangan zaman. Islam progresif ini diperkenalkan oleh organisasi Muhammadiyah. Lebih dari itu, keterbukaan Islam terhadap budaya lokal melahirkan Islam dengan khas lokal atau yang disebut di Indonesia dengan Islam Nusantara. Islam Nusantara ini diperkenalkan oleh organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

BACA JUGA  Serial Kebangsaan (II): Pentingnya Membangun "Ukhuwah Biladiyyah" dalam Berbangsa dan Bernegara

Sekalipun Islam progresif dan Islam Nusantara bukanlah sesuatu yang final, tidak seharusnya Islam model ini disesatkan. Karena, kedua model Islam tersebut menggambarkan keragaman hasil ijtihad dari masing-masing kelompok. Kelompok yang tidak terbuka terhadap ijtihad orang lain sudah melanggar sikap keterbukaan yang diajarkan dalam Islam.

Keterbukaan pemikiran sangat membantu orang saling menghormati satu sama lain. Mereka tidak gampang menyesatkan, apalagi mengkafirkan saudaranya sendiri, karena alasan yang sungguh sangat sepele: beda pemikiran dan keyakinan. Mereka akan memberikan kebebasan untuk berpikir makin kreatif.

Sebagai penutup, terorisme bukanlah Islam, sekalipun mengaku-ngaku Islam. Terorisme adalah kelompok—yang persis dalam sebutan Nabi—hanyalah membaca Al-Qur’an sampai di tenggorokannya saja, belum sampai di dalam hati. Terorisme hanyalah membaca Al-Qur’an sebatas terjemahannya saja, belum menyelami pesan dan kesan yang tersembunyi dibalik teks Ilahi tersebut. Penting direfleksikan pesan yang disampaikan oleh Jenderal Polisi Listiyo Sigit Prabowo: “Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan terorisme. Semua agama mengajarkan kasih sayang, termasuk Islam yang di dalamnya mengajarkan Islam rahmatan lil alamin.”[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru