26.2 C
Jakarta

Suburnya Hoaks di Era Millenial

Artikel Trending

KhazanahOpiniSuburnya Hoaks di Era Millenial
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Era millenial saat berkembangnya berita yang belum benar kepastiannya atau berita bohong (hoaks) kian tinggi tensinya terlebih dengan adanya media yang terkenal canggih atau pasca lahirnya medsos (media sosial) Salah satu berita bohong atau dikenal populer sebutannya dengan hoaks dalam bahasa Islam adalah terjemah dari kata “al-Kadzibu”. Sedangkan maknanya di jelaskan oleh Ibnu Mandzur , seorang pakar bahasa dalam kitabnya, Lisanul Arab. Ibnu Mandzur berkata: “Bohong itu lawan dari jujur.”

Adapun hakikat dari bohong telah dijelaskan oleh Imam al-Mawardi dalam kitabnya berjudul Adab Ad Dunya Wa Ad Diin berbunyi: “Hakikat bohong yaitu pengkabaran tentang sesuatu yang bertentangan dengan realita. Dan pengkabaran tersebut tidaklah terbatas pada perkataan, akan tetapi terkadang dengan perbuatan. Seperti dengan isyarat tangan, atau dengan anggukan kepala, bahkan terkadang dengan sikap diam.”

Dalam bahasa Arab, kata “bohong”(hoax) digunakan dalam kondisi disengaja maupun tidak disengaja sebagaimana dalam masalah pembunuhan, terkadang terjadi secara sengaja mapun tidak sengaja. Contoh makna berbohong secara tidak sengaja sebagaimana dijelaskan dalam hadits di bawah ini: “Telah berbohong Abu Sanabil, permasalahannya bukan seperti yang dia katakan. Sungguh engkau telah halal (dinikahi), maka menikahlah.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan arti kata berbohong dalam hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh para ulama adalah berbohong secara tidak sengaja, karena Abu Sanabil memberikan kabar yang bertentangan dengan realita yang ada berdasarkan pemahamannya yang keliru.

Adapun bohong yang disengaja adalah bohong yang haram dan menyeret pelakunya ke dalam api neraka sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi: “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya bohong itu membawa kepada kejahatan dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang selalu berbohong sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai penbohong.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Beranjak dari itu syariat Islam sangat melarang terhadap hoax begitu juga menyebarkannya. Telah disebutkan dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan jauhilah oleh kalian berbuat bohong, karena bohong membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berbohong dan memilih kebohongan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai penbohong (pembohong).” (HR. Ahmad).

BACA JUGA  Memahami Toleransi Beragama dalam Kerangka Filsafat Politik Abad Pertengahan

Larangan Hoaks dalam Al-Quran

Banyak ayat Al-Quran yang melarang kita berbohong, diantaranya : “Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, maka baginya adzab yang besar.” (QS. An-Nur [24] 11).

Fenoemena viralnya hoax di negeri kita ini sudah menjadi “trend” bahkan korbannya para tokoh dan mereka yang berpendidikan tinggi, kalau masyarakat awam, tentunya sudah pasti tidak perlu dikupas lagi. kita harus ingat bahwa masalah berita bohong di dalam Islam bukan perkara sepele dan harus benar-benar kita jauhi dalam kehidupan sehari-hari, sebab yang namanya adzab itu sudah pasti berat, apalagi Allah tegaskan dengan adzab yang besar.Oleh karena itu pentingnya kita berhati-hati dalam berbohong (hoax). Dalam hal ini Allah juga memperingatkan kita tentang bahaya berbohong dalam firman-Nya,berbunyi: “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan bohong.” (QS. Al-Hajj [22]: 30).

Telah disebutkan dalam tafsir Ibn Katsir dipertegas dengan hadits Rasulullah. “Maukah kalian aku bertitahukan tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Kami menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Beliaupun melanjutkan, “Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Pada waktu itu beliau duduk dengan bersandar, lalu beliau duduk dengan tegak, lalu meneruskan sabdanya, “Hati-hatilah (terhadap) perkataan bohong dan sumpah palsu.” Beliau terus-menerus mengulang-ulanginya hingga kami berkata: “Semoga beliau diam” (HR. Bukhari Muslim).

Marilah bersama kita perangi hoaks dan kita mulai dari diri sendiri dan orang terdekat kita baik keluarga dan lainnya. Korban berita hoaks itu akan menerkam siapa saja, sekali lagi marilah kita bertanya dan bertabayun terhadap suatu informasi semoga kita bisa selamat dari fitnah dan meraih hari esok yang lebih baik. Amin.

Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi
Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi
Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen dan Ketua PC Ansor Pidie Jaya, Aceh.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru