28 C
Jakarta

Soal Pandji Pragiwaksono, Harusnya Kita Tidak Reaktif, Melainkan Introspeksi

Artikel Trending

Sejujurnya saya takut menulis ini. Tetapi, ini memang perlu disampaikan. Diksi “Kita” yang saya maksud dalam judul di atas adalah saya dan Anda sekalian yang sepakat dengan bubarnya FPI. Dengan kata lain, yang tidak setuju dengan statemen Pandji Pragiwaksono yang hari ini tengah menjadi polemik. Diksi “Kita” bisa juga digunakan untuk orang-orang NU dan Muhammadiyah—Ormas moderat. Klaim moderat yang reaktif (emosian?) itu, kemudian, yang membuat saya berpikir: “Ini penting untuk dibahas.”

“Jadilah komedian yg baik, jgn komentarin & menghukumi sesuatu yg anda @pandji tdk ketahui, Dzolim anda. NU & Muhammadiyah berjasa dlm mencerdaskan kehidupan bangsa & membantu masy. saran sy unt para pembohong & pengadu domba sebaiknya MINTA MAAF kpd ke 2 ormas islam terbesar tsb,” cuitan CEO of Indonesian Cyber, Muannas Alaidid, Rabu (20/1) kemarin, ketika menanggapi cuplikan video Pandji Pragiwaksono yang membandingkan FPI dengan NU-Muhammadiyah.

Pernyataan Pandji yang dikritik Muannas sebagai zalim merupakan potongan dari video “FPI DIBUBARIN PERCUMA? feat AFIF XAVI & FIKRI KUNING” yang diunggah di YouTube pada Minggu (3/1) lalu. Video itu aslinya berdurasi 53 menit 8 detik. Saat bicara soal FPI, Pandji bicara dalam konteks efektivitas pembubaran suatu organisasi. Kata Pandji, membubarkan Ormas itu mudah, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Dan yang penting dicatat, Muannas bukan satu-satunya orang yang reaktif.

Berdasarkan penelusuran saya, reaksi paling banyak datang dari kalangan Nahdhiyyin. Ada yang mengatakan bahwa Pandji tidak paham persoalan, ada juga yang membela bahwa NU sudah mendirikan ribuan madrasah. Sementara orang-orang Muhammadiyah memilih untuk tidak menanggapi, sampai ada salah satu Nahdhiyyin yang buat status di Facebook-nya, kira-kira bunyinya begini:

“Kalau ada yang marah ketika NU dan Muhammadiyah dihina atau dijelekkan, itu pasti orang NU. Orang Muhammadiah hanya bereaksi jika FPI dicela.”

Sungguh reaksi nyinyir yang memalukan!

Semua orang tahu, Muhammadiyah memiliki struktur solid dalam mencerdaskan bangsa melalui pendidikan. Semua orang juga sudah tahu, madrasah NU di pelosok-pelosok jumlahnya tidak terhitung. Tidak boleh dilupakan juga bahwa FPI turun ke masyarakat, terlepas dari apa pun motifnya. Baik melalui bantuan langsung seperti yang Pandji Pragiwaksono kutip, atau sekadar dokumentasi sebagaimana yang berseliweran di media sosial. Pandji bicara dengan mengutip sosiolog UI, Thamrin Amal Tomagola.

Saya tidak membela FPI. Pada tulisan-tulisan sebelumnya, saya mengulas banyak bahwa Ormas tersebut memang harus dibubarkan. Yang saya tegaskan adalah, kita semestinya tidak mengotori konsep ‘moderasi beragama’ yang dimotori NU-Muhammadiyah, dengan sikap reaktif-emosional kita sebagai jemaah. Pandji Pragiwaksono boleh jadi merupakan representasi masyarakat urban memandang elitisme Ormas. Kalau kita gebuk rame-rame, yang adalah mereka malah resistan pada kita.

Kita dan NU-Muhammadiyah

Statemen kutipan Pandji yang membuat banyak di antara kita menggelinjang itu berbunyi begini, dan mari dibaca dengan seksama:

.. emm…, dan kalau di tulisan gua ya, juga di stand up gua, gua bilang bahwa, Pak Thamrin Tomagola sosiologi itu bilang, bahwa FPI itu hadir gara-gara dua ormas Islam yang gede itu sudah jauh sama rakyat, yaitu Muhammadiyah dan NU. Jauh ke bawah. Mereka itu elite-elite politik. FPI waktu itu deket ke rakyatnya, setiap kali, ini, ini yang gua denger dari Pak Thamrin Tomagola. Dulu nih, FPI nih, tahun 2012 kejadiannya. Kalau misalnya ada anak mau masuk ke sebuah sekolah, kemudian nggak bisa masuk, itu biasanya orang tuanya ke FPI minta surat. Dibikinin surat sama FPI, dibawa ke sekolah, itu anak bisa masuk. Terlepas dari surat itu menakutkan bagi sekolahnya, tapi nolong warga gitu. Kalau misalnya ada yang sakit, ini sering kejadian nih. Ada warga yang sakit, mau berobat, nggak punya duit, ke FPI. Kadang-kadang FPI ngasih duit, kadang-kadang FPI ngasih surat. Suratnya dibawa ke dokter, jadi diterima. Tapi kenapa bisa seperti itu? Karena kata Pak Thamrin Tomagola, pintu rumahnya ulama-ulama FPI kebuka untuk warga. Jadi kalau orang mau datang bisa. ‘Lu mau apa, ya lu ngobrol sama gua’. Nah yang NU dan Muhammadiyah karena udah terlalu tinggi dan elitis warga tuh nggak ke situ, warga justru ke nama-nama besarnya FPI.

BACA JUGA  Teologi Syahid Rijikers, Sayyid Qutb, dan Bahayanya
BACA JUGA  Mohon Maaf! Tidak Butuh Dialog Lagi Untuk Memberantas FPI

Apakah kita mengira bahwa Thamrin Tomagola yang Pandji kutip itu membela FPI? Sangat tidak mungkin. Konteksnya bukan begitu. Sosiolog UI itu pernah disiram oleh Munarman dalam talkshow di salah satu TV swasta. Ia hanya ingin menyampaikan ke publik tentang trik jitu FPI mendapat simpati masyarakat, yakni dengan bergerak di akar rumput. Artinya, secara tersirat, ia mengatakan, seharusnya NU-Muhammadiyah juga begitu. Konteks daerah yang Sang Sosiolog sampaikan adalah Jakarta.

Di Jakarta, dengan perspektif sosiologisnya, ia melihat NU-Muhammadiyah justru sebaliknya. Kita tidak bisa menampik fakta ini. Bukankah sebagian petinggi NU memang elitis? Saya tidak perlu menyebutkan nama, dan semua orang bisa mengira siapa yang gerakan sosialnya lebih mementingkan gerakan politik elit ketimbang jemaah di pelosok-pelosok. Jadi untuk marah, jelas kita terburu-buru. Kita kecolongan simpati masyarakat karena hati mereka dimenangkan FPI. Mengapa kita reaktif dan marah?

Terima Kasih, Pandji Pragiwaksono!

Introspeksi. Itu kata intinya. Pandji Pragiwaksono hanya mengutip seorang sosiolog. Dan kalau kita telusuri, sosiolog tersebut tidak dalam rangka membela FPI, melainkan membeberkan fakta bahwa kita memang sering kecolongan dalam gerakan sosial msyarakat menengah ke bawah. Kita nyinyir karena FPI foto saat membantu bencana alam, padahal itu memang strategi mereka. Sikap reaktif demikian, yang ribuan orang lampiaskan dengan menghujat Pandji, dan Munnas lampiaskan dengan menyebut Pandji zalim, kenapa harus terjadi? Apa manfaatnya?

Kita harus berterima kasih kepada Pandji Pragiwaksono karena dirinya telah menjadi testimoni bagaimana masyarakat urban memandang FPI. Ia memberi kita trik bahwa agar FPI bubar total dan tidak lagi dapat simpati masyarakat, yaitu dengan cara tidak menjadi elitis. Polemik ini merupakan pukulan telak seorang influencer kepada elitisme sebagian petinggi NU atau Muhammadiyah. Hanya saja, kemasan Pandji salah, dan karena kesalahan kemasan tersebut, kita reaktif lalu ngamuk.

Itu yang tidak perlu. Seharusnya kita memang tidak perlu reaktif, apalagi menghadapi polemik seremeh-temeh ini. NU-Muhammadiyah sudah besar, dianggap bagaimanapun tidak akan menurunkan derajatnya. Tetapi jika ada polemik yang bisa kita ambil pelajaran, selaiknya kita tidak reaktif. Sikap moderat tidak mudah terpencing untuk marah, bukan? Itu kalau kita memang benar kaum moderat yang hakiki, bukan klaim semata!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru