28 C
Jakarta

Sebab Tidak Mau Berbeda, Jepang-Belanda dan HTI-FPI Tersungkur di Tanah Indonesia

Artikel Trending

Kemajemukan di Indonesia adalah bukti negara pertiwi ini bersatu dalam perbedaan. Di sana terbentang segala bentuk perbedaan. Mulai perbedaan suka sampai perbedaan agama. Ada suku Jawa dan Dayak, pun ada agama Islam dan non-Islam.

Perbedaan di Indonesia bukanlah sesuatu yang negatif. Perbedaan itu adalah satu-satunya alasan untuk saling menguatkan di tengah gelombang perpecahan. Bahkan, perbedaan ini menerjang arus perpecahan antar sesama.

Indonesia dengan perbedaan yang ada justru menjadikan negara merah putih ini semakin terpuji. Negara ini mampu mengamalkan syariat Islam. Karena, dalam Islam perbedaan itu adalah rahmah. Tuhan menciptakan alam semesta serba berbeda-beda: langit-bumi, laki-laki-perempuan, dan seterusnya.

Kendati perbedaan itu positif, masih banyak kelompok yang melihat perbedaan itu adalah petaka. Kelompok begini sangat berbahaya, karena mereka cenderung melakukan aksi-aksi radikal begitu dihadapkan dengan perbedaan yang ada. Mereka tidak peduli, apakah yang berbeda dengan dirinya sekeyakinan atau tidak.

Kelompok yang tidak peduli dengan perbedaan memiliki ciri-ciri, yaitu: gemar mengkafirkan, menjadikan aksi-aksi kekerasan sebagai solusi, dan menempatkan kepentingan politik di atas nilai-nilai kemanusiaan. Ketiga ciri-ciri ini mungkin dapat menggambarkan kelompok yang mana yang termasuk di dalamnya.

Kelompok yang tergolong radikal berdasar pada tiga ciri-ciri tersebut tidaklah sedikit berada di Indonesia. Semisal, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Front Pembela Islam (FPI). Kedua kelompok ini hadir dengan keangkuhan. Merasa paling kuasa akan menggulingkan kepemerintahan. Mengganti sistem republik-demokratis dengan khilafah. Sayang, kedua kelompok ini tersungkur di tengah keangkuhannya sendiri.

Kesombongan HTI dan FPI yang merasa paling benar dan menolak perbedaan yang terbentang di Indonesia terpaksa mengakhiri segalanya di tangan pemerintahan yang mulanya dianggap “receh”. Kesombongan memang dapat melemahkan pelakunya. Karena itu, Islam melarang pemeluknya berperilaku sombong dan angkuh. Islam sebaliknya mendorong bersikap rendah hati dengan memandang yang berbeda sebagai suatu bentuk kebenaran, bukan kekeliruan.

Pentingnya bersatu dalam perbedaan, cendekiawan muda Habib Husein Jakfar Al-Hadar menyebutkan, “Perbedaan mustahil bisa disingkirkan. Tak ada pilihan lain kecuali harus bersatu di tengah perbedaan yang ada.” Wejangan Habib Husein ini sejatinya menegaskan bahwa perbedaan itu adalah fitrah manusia, lebih dari itu perbedaan itu adalah sunnatullah.

BACA JUGA  Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Mengampanyekan Terorisme Bermodus Jihad

Sebagai fitrah perbedaan itu benar-benar melekat dalam diri manusia semenjak manusia lahir. Tidak bisa manusia menolak perbedaan. Bahkan, tidak akan lahir manusia dari generasi ke generasi tanpa menyatunya perbedaan antar lelaki dan perempuan. Terus, sebagai sunnatullah perbedaan itu laiknya hukum kausalitas (sebab-akibat). Manusia akan hidup sejahtera jika mereka mampu saling berdampingan di tengah perbedaan yang ada.

BACA JUGA  NU dan Muhammadiyah Membela Indonesia dari Serangan Paham Radikal

Indonesia bisa eksis sampai detik ini karena mampu menyatu dalam perbedaan. Siapa pun yang menolak fitrah dan sunnatullah perbedaan akan mengalami kehancuran di kemudian hari. Buktinya, dulu Jepang dan Belanda yang datang menjajah ke Indonesia dengan sikap egois yang tinggi serta menolak perbedaan suku di Indonesia pada akhirnya hancur juga. Lebih dari itu, akhir-akhir ini HTI dan FPI yang tidak senang perbedaan tumbuh di Indonesia akhirnya tumbang juga.

Indonesia bisa eksis sampai detik ini karena mampu menyatu dalam perbedaan. Siapa pun yang menolak fitrah dan sunnatullah perbedaan akan mengalami kehancuran di kemudian hari. Buktinya, dulu Jepang dan Belanda yang datang menjajah ke Indonesia dengan sikap egois yang tinggi serta menolak perbedaan suku di Indonesia pada akhirnya hancur tiada tersisa. Lebih dari itu, akhir-akhir ini HTI dan FPI yang tidak senang perbedaan tumbuh di Indonesia akhirnya tumbang juga.

Sebagai penutup, perbedaan itu adalah rahmat. Perbedaan itu tidak bertentangan dengan syariat Islam. Perbedaan itu merupakan fitrah yang melekat dalam diri manusia. Terimalah perbedaan itu dengan hati yang terbuka dan bersih agar hidup ini penuh dengan warna perdamaian. Berdamai dengan perbedaan akan menyenangkan. Sebaliknya, menolak perbedaan akan menyebabkan kehancuran.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. Iyya Lo, makan duit penguasa makanya bilang gitu, kenapa FPI sebagai perwakilan ummat Islam yang menuntut keadilan hukum di negeri ini di bilang radikal, memang kebanyakan Media nggak waras sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru