33.2 C
Jakarta

Mencegah Dekadensi Akhlak Generasi Muda di Era Millenial

Artikel Trending

Salah satu elemen penting dalam melahirkan sosok generasi emas di negeri ini adalah kaum generasi muda. Keberadaan dan  peran generasi muda Islam menjadi tongkat estafet dan pioneer besar dalam pembangunan bangsa bukan hanya pembangunan fisik terlebih pembangunan spiritual dan akhlak bangsa yang semakin terinjakdan terikis dewasa ini oleh eraglobalisasi dan imformasi yang semakin canggih, disini hendaknya sosok generasi muda yang dikenal dalam istilah agama dengan al-Fata bisa menjadi  the hero (pahlawan) dalam menyalamatkan bangsa ini.

 Realitanya dalam sejarah dari masa kemasa sosok generasi muda memiliki andil serta peranan yang sangat penting terkait dengan masalah peradaban universal, seperti yang telah disebutkan diatas, termasuk dalam membangun umat. The best agent of change merupakan frase yang paling tepat menggambarkan sepak terjang generasi muda dalam perspektif sejarah Islam maupun dunia. Dalam kacamata sejarah peradaban Islam, generasi muda merupakan tonggak kebangkitan umat serta sumber kekuatan pembela terhadap aqidah dan ideologi. Islam tidak dapat di lepaskan dari sosok al-fata.

Pertumbuhan dan perkembangan agama Islam itu sendiri karena banyaknya peran aktif generasi muda berkualitas didalamnya sebagai kader khalifah dimuka bumi ini dalam memperjuang dinul islam yang telah dicetuskan  oleh Rasulullah SAW sejak 14 abad yang lalu. Sosok generasi muda Islam harus memiliki jalan hidup pejuang spiritual (spiritual warriorship), kesatriaan spiritual. Interpretasi nilaiitu sendiri sangat berkaitan dengan kepemudaan dalam interaksinya dengan kehidupan spiritual  yang bersifat permanen, bukan hanya terpaut pada kepemudaan yang bersifat  jasmani. Keberadaan generasi muda sendiri juga telah disinggung dalam surat Al-Kafhi ayat 10 berbunyi:

 “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”(QS. Al-kahfi: 10).

Dalam penafsiran ayat diatas tentang esensi pemuda diperjelas oleh riwayat  dari Sulaiman bin Ja’far, beliau berkata: Imam Ja’far bin Muhammad berkata: “Wahai Sulaiman, siapakah pemuda itu?” kemudian aku menjawab: “..pemuda bagi kami adalah orang yang masih muda.” Lantas beliau berujar kepadaku: “Seperti yang engkau  ketahui bahwa Ashabul Kahfi semuanya adalah orang-orang tua akan tetapi Allah SWT menyebut mereka sebagai pemuda karena keimanan mereka. Wahai Sulaiman: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan bertakwa maka dialah pemuda.” Pernah dalam kesempatan yang lain Imam Ja’far Ash-Shiddiqmenyebutkan: “Pemuda itu adalah seorang mukmin”.

Dalam pelaksanaan pembinaan moral terhadap generasi muda dalam masyarakat kita peranan penting dalam menentukan tingkat keberhasilan pembinaan moral generasi muda. Terlebih lagi dalam kultur masyarakat Aceh, guru agama atau penyuluh agama (Teungku dalam bahasa Aceh) sangat dihormati dan disegani, sehingga pesan yang disampaikannya akan dipatuhi dan diikuti. Disamping peran serta dari orang tua  generasi muda itu sendiri juga tidak dapat dipisahkan dalam melakukan pembinaan moral. Maka dari itu, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dalam mempengaruhi remaja (objek pembinaan) agar mengikuti pesan yang disampaikan, merupakan salah satu faktor penting yang harus dimiliki oleh agen komunikasi. Karena pesan yang disampaikan mengandung nilai-nilai pembinaan moral, yang meliputi pembinaan akhlak, sikap dan perilaku.

Dalam konteks historis Islam, salah satu faktor keberhasilan syiar Islam yang dibawa Rasulullah Saw adalah kemuliaan akhlak yang dimiliki Rasulullah Saw. Beliau senantiasa selalu memberikan pencerahan kepada umat, membimbing, mendorong, membangun peradaban dan menegakkan hak-hak umat manusia. Rasulullah Saw merupakan tokoh reformis bagi peradaban umat manusia, dan teladan yang baik dalam segala aspek kehidupan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah Swt dalam Alquran surah Al-Ahzab/33: 21, yang bunyinya adalah sebagai berikut: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab/33: 21).

Islam bersifat universal, maka akhlak Islami juga bersifat universal. Sehingga akhlak Islami bersifat mengarahkan, membimbing, mendorong, membangun peradaban manusia dan mengobati penyakit sosial yang tumbuh dalam jiwa dan mental seseorang. Dimana perhatian Islam terhadap pembinaan akhlak (moral) dapat ditelusuri pada muatan akhlak secara garis besar, yang terdapat pada seluruh aspek ajaran Islam. Yakni akhlak hamba dengan Allah Swt (hablu min Allah) dan akhlak manusia dengan sesama manusia (hablu min an-nas). Hal ini sebagaimana yang telah diterapkan Rasulullah Saw dalam awal-awal perkembangan Islam.

BACA JUGA  Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Melihat generasi muda merupakan generasi penerus bangsa, maka menciptakan terbentuknya kepribadian mereka yang utuh dan berakhlak Islami haruslah menjadi prioritas utama komunikator muballighdalam melakukan pembinaan moral terhadap generasi muda. Membentuk kepribadian yang dimaksudkan adalah menciptakan pengembangan jati diri mereka yang sebenarnya agar terhidar dari perilaku yang sifatnya negatif. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan perhatian serius dan metode khusus dalam pembinaan. Disamping menyesuaikan dengan situasi dan kondisi generasi muda agar memberikan hasil yang efektif. Karena tujuan pelaksanaan pembinaan moral terhadap remaja adalah untuk membentuk mental dan kepribadian mereka, serta menumbuhkan kesadaran bahwa mereka adalah generasi penerus yang mempunyai kewajiban dan tanggungjawab bagi agama dan bangsa.

BACA JUGA  Memberantas Radikalisme ala Pesantren

Pada dasarnya, tujuan pelaksanaan pembinaan moral terhadap remaja tidak terlepas dari tujuan pembinaan agama secara keseluruhan, yakni bertujuan pertama, untuk meningkatkan pengetahuan agama di kalangan remaja (kognitif). Kedua, Menumbuhkan kesadaran untuk mengamalkan ajaran agama dalam kehidupannya, terutama yang berkaitan dengan akhlak, sikap dan perilaku (psikomotorik). Ketiga, Terbentuknya kepribadian yang utuh, yang dilandasi nilai-nilai Islami dan norma-norma sosial lainnya. Komunitas kehidupan remaja memilki keunikan dan karakteristik tersendiri, dimana permasalahan yang mereka hadapi bersifat komplit dan memperlihatkan model kehidupan yang sangat berbeda dengan cara hidup kelompok lain, serta memiliki ciri-ciri, sifat dan kondisi psikologis yang juga berbeda.

Sehingga dalam pembinaan moral terhadap remaja dibutuhkan metode penyampaian yang variatif dan teknik yang berbeda pula, dengan menyesuaikan kondisi dari remaja itu sendiri. Hafifuddin mengatakan bahwa salah satu tugas agamawan dalah menyusun dan menetapkan materi-materi binaan sesuai dengan keadaan komunikan (dalam hal ini generasi muda) serta segala bentuk problrmatika yang mereka hadapi. Materi-materi tersebut berdasarkan kualifikasi umur, status sosial, dan keprofesian. Melakukan verifikasi awal adalah suatu hal yang penting, bukan hanya berkaitan dengan substansi materi binaan saja, tetapi juga meliputi cara penyampaiannya. Dalam hal ini, Allah Swt memberikan gambaran yang jelas tentang penggunaan metode yang tepat dalam berkomunikasi, terutama bagi agen kumunikasi yang terlibat dalam upaya perubahan sosial dan pembinaan moral.

Metode dimaksud sebagaimana tercantum dalam Surah An-Nahl/16: 125; “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 125).

Beranjak dari pembahasan diatas, jelas bahwa peran dari generasi muda itu sendiri sangat menentukan dan kunci keberhasilan dan kesuksesan dalam membentuk generasi qyang diimpikan oleh segenap lapisan masyarakat. Sosok generasi penerus bangsa yang memiliki andil yang besar dalam membawa perubahan dan pelopor dalam segala lini kehidupan terutama perubahan akhlak dan moral para pemuda dan masyarakat Indonesia pada umumnya Indonesia.

Beranjak dari itu marilah bersama bergandengan mewujudkan lahirnya generasi penerus emas dan handal yang beraklakul karimah dan insan qurani dengan berbagai cara, termasuk kenakalan itu memangsa mereka generasi penerus dengan tugas masing-masing, terlebih keluarga sebagai madrasatul ula generasi penerus kita. Lahirnya kenakalan  tidak terlepas dari kenakalan orang tua dan kita semua yang mengabaikan amanah yang telah dititahkan sang khalik. Jangan salahkan orang lain, apabila kita termasuk bagian dari kenakalan orang tua, pasti mereka juga bakal menjadi sosok generasi seperti kita bahkan lebih dari itu. Amin..

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi
Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi
Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen dan Ketua PC Ansor Pidie Jaya, Aceh.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru