26.7 C
Jakarta

Bersiap Perang, Israel Perluas Fasilitas Nuklir

Artikel Trending

Harakatuna.com. Tel Aviv – Israel sedang melakukan perluasan besar-besaran fasilitas nuklir Dimona di gurun Negev. Pasalnya di tempat ia secara historis membuat bahan fisil untuk persenjataan nuklirnya .

Pekerjaan konstruksi terungkap dalam citra satelit baru yang diterbitkan pada hari Kamis. Ini terlaksana oleh International Panel on Fissile Material (IPFM), sebuah kelompok ahli independen. Analisa citra satelit tersebut diterbitkan The Guardian, Jumat (19/2/2021).

Area yang sedang dikerjakan berjarak beberapa ratus meter ke selatan dan barat reaktor berkubah dan titik pemrosesan ulang di Shimon Peres Negev Nuclear Research Center, dekat kota gurun Dimona.

Pavel Podvig, seorang peneliti pada program sains dan keamanan global di Princeton University. Ia mengatakan: “Tampaknya pembangunannya dimulai cukup awal pada tahun 2019, atau akhir 2018. Jadi sudah berlangsung selama sekitar dua tahun, tetapi hanya itu yang kami bisa katakan pada saat ini.”

Kedutaan Israel di Washington tidak berkomentar tentang gambar baru satelit tersebut. Israel memiliki kebijakan ambiguitas yang disengaja pada persenjataan nuklirnya, yakni tidak membenarkan atau menyangkal keberadaannya. Federasi Ilmuwan Amerika memperkirakan bahwa Israel memiliki sekitar 90 hulu ledak. Itu semua terbuat dari plutonium yang diproduksi di reaktor air berat Dimona.

BACA JUGA  Tegas, Al Azhar Keluarkan Fatwa Larangan Bergabung Dengan Kelompok Teroris

Fasilitas Nuklir Andalan Israel

Fasilitas nuklir tersebut dilaporkan telah digunakan oleh Israel untuk membuat replika sentrifugal uranium Iran untuk menguji worm komputer Stuxnet yang digunakan untuk menyabotase program pengayaan uranium Iran di Natanz. Tapi itu lebih dari 10 tahun yang lalu, jauh sebelum ekspansi saat ini dimulai.

Israel membangun reaktor Dimona pada 1950-an dengan bantuan ekstensif dan rahasia dari pemerintah Prancis. Pada akhir dekade, diperkirakan ada 2.500 warga Prancis yang tinggal di Dimona, yang memiliki lycées Prancis-nya sendiri, tetapi semuanya di bawah kedok penyangkalan resmi.

Menurut The Samson Option, yang ditulis oleh jurnalis investigasi Seymour Hersh, pekerja Prancis tidak diizinkan untuk menulis ke rumah secara langsung tetapi surat mereka dikirim melalui kotak pos palsu di Amerika Latin.

BACA JUGA  Intelektual Anti Hizbullah Ditembak Mati di Lebanon Selatan

Peran Dimona dalam program senjata nuklir Israel pertama kali diungkapkan oleh mantan teknisi di situs tersebut, Mordechai Vanunu, yang menceritakan kisahnya kepada Sunday Timesdi Inggris pada tahun 1986.

Sebelum dipublikasikan, dia dibujuk dari Inggris ke Italia oleh seorang agen wanita Israel dan diculik oleh Mossad. Vanunu menghabiskan 18 tahun di penjara, 11 di antaranya di sel isolasi, karena mengungkap rahasia Dimona.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru