26.7 C
Jakarta

Intelijen dan Modernisasi Persenjataan di Masa Nabi Daud AS

Artikel Trending

Nabi Daud as merupakan figur bersejarah yang dihormati dalam tiga agama Abrahamik; Islam, Nashrani, dan Yahudi. Ia merupakan keturunan ke 12 dari nabi Ibrahim dari jaur Nabi Ishaq. Ibunya Yisya (Aisya) bin Awid yang merupakan keturunan Yehuda bin Yaqub bin Ishaq bin Ismail. Daud kecil menghabiskan masa kanak-kanak dan masa mudanya di Yerusalem (Bait al Maqdis) bersama ayah dan tiga belas saudaranya.

al-Quran mengabadikan kehidupannya dalam 16 surah yang terpisah ; Surah Saba, al-Nisa, al-Isra, Shad juga surah al-Anbiya. Ketokohan Daud as salah satunya sebagai figur jenderal perang yang memiliki pengetahuan luas di bidang militer. Ayat 79 surat Al-Anbiya’ misalkan menggambarkan pribadi Daud as yang memiliki watak bijaksana (hukman), berpengatahuan luas (‘Ilman), dan mampu menaklukkan gunung dan binatang. Sementara pada ayat 80 di surat yang sama, Daud as digambarkan memiliki kemampuan dalam bidang pemutakhiran peralatan perang modern pada masanya yakni berupa pembuatan baju zirah dari besi yang digunakan untuk menjaga diri saat berperang.

Ayat-ayat ini menjelasan alasan mengapa Nabi Daud as butuh pada pengembangan baju zirah dengan teknologi lebih modern. Ibnu Katsir menjelaskan, sebelum Nabi Daud as menciptakan teknologi modern, bentuk baju zirah pada zamannya masih kasar, berupa lapisan-lapisan besi tebal yang dipaku, memberatkan dan menyakitkan pada tubuh penggunanya. Nabi Daud untuk pertamakalinya memodifikasi menjadi baju zirah yang lebih ringan  dan tidak menyakitkan, (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, 5/358).

Ath-Thabari menghadirkan alternatif pemaknaan yang lain. Ia mengutip makna linguistik dari kata “labus” yang dibuat oleh Nabi Daud as. Kata Labus bagi masyarakat Arab bukan semata baju zirah (duru’) melainkan silah, yang artinya segala jenis persenjataan perang. Kata Silah itu sendiri bisa menunjuk pada baju zirah (dir’un), pedang (saif), atau bahkan tombak (rumh). Sedangkan kata ba’sun dalam ayat al-Quran bukan semata rasa sakit yang ditimbulkan oleh zirah dengan tipe klasik, melainkan diartikan sebagai al-qital atau peperangan (Ath-Thabari, Jami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, 16/329-330).

Dalam konteks tafsir semacam ini, Allah swt mengajarkan Nabi Daud as ilmu dan hikmah untuk melakukan modernisasi persenjataan militer, melebihi kekuatan militer terkuat pada masa itu yang dikuasai tentara Jalut. Dengan menggunakan tafsir kata labus sebagai silah dan kata ba’sun sebagai qital, ayat-ayat al-Quran surat al-Anbiya’ ini menjadi kontekstual dengan sistem militer kontemporer. Lebih-lebih perang di era modern tidak sebatas lomba persenjataan melainkan juga lomba penguasaan informasi dan intelijen.

Dengan demikian, modernisasi kekuatan militer yang dibahasakan oleh al-Quran bukan semata-mata perlombaan pengembangan persenjataan melainkan segala aspek yang lebih kompleks, termasuk dunia intelijen. Selain itu, al-Quran mengukuhkan figur nabi Daud sebagai figur panglima perang yang berpikiran modern, inovatif dan strategis pada zamannya. Pengembangan pusat pembuatan persenjataan militer mutakhir pada masanya merupakan alasan di balik kemenangan terhadap musuh-musuh Nabi Daud di medan perang.

BACA JUGA  Revolusi Akhlak Butuh Wali Mursyid Bukan Imam Besar

Informasi penting lain disuguhkan oleh Abul Laits as-Samarqandi. Menurutnya, pada suatu malam, Nabi Duad as pergi berjalan-jalan di sekitar kerajaannya. Daud as berjumpa dengan salah seorang pejabat pemerintahan. Malaikat Jibril as mengabarkan pada Nabi Daud as dengan berkata: “lelaki terbaik adalah dia, andai saja tidak karena sesuatu.” Daud penasaran lalu bertanya: “Sesuatu apakah itu?” Jibril menjawab: “hidupnya bergantung pada harta di Baitul Mal. Padahal, tidak ada yang lebih baik dibanding lelaki yang makan dari hasil keringatnya sendiri.” Daud pun pulang, lalu memohon kepada Allah agar diberi kemampuan untuk makan dari hasil kerja sendiri (As-Samarqandi, Bahrul Ulum, 2/374).

BACA JUGA  Khilafah Proyek Gagal Buzzers HTI

Modernisasi persenjataan sebuah negara merupakan sebuah keniscayaan bukan semata-mata untuk perlombaan dalam perang, melainkan demi menopang tujuan kedaulatan diri dan kedaulatan negara. Hidup dengan bergantung pada orang lain, Baitul Mal, jauh lebih rendah kualitasnya dari pada bergantung pada kemampuan diri sendiri. Ini adalah hakikat kedaulatan. Kreatifitas Nabi Daud as dalam mengembangkan teknologi bukan semata untuk meraih kemenangan dari Jalut, melainkan untuk kemandirian dirinya sebagai pribadi penguasa maupun kedaulatan negaranya.

Selain itu, kisah historis dari Abul Laits as-Samarqandi juga menginspirasi kita tentang latar belakang intelektual Daud as sebelum diberi anugerah oleh Allah swt. Daud as sebagai panglima perang memerankan diri sebagai pengumpul informasi intelijen sekaligus dan mencari kabar perkembangan mutakhir di sekitar kerajaannya, sebelum ia berjumpa dengan lelaki yang hidup bergantung pada harta Baitul Mal. Sesudah mencari informasi, ia mengumpulkan berita dan menganalisanya bersama-sama dengan malaikat Jibril adalah pekerjaan utama insan intelijen. Dari hasil analisa intelijen yang dilakukan Daud dan Jibril, modernisasi teknologi persenjataan militer dikembangkan.

Dengan kata lain, sebelum Daud as mengembangkan teknologi Labus, ia terlebih dahulu mengumpulkan informasi-informasi tertentu, melakukan analisa-analisa kritis dan strategis, baru kemudian mengambil kebijakan untuk menciptakan Labus. Analisa kritis-strategis dilakukan bersama Malaikat Jibril. Sementara pengetahuan tentang pengembangan Labus didapatkan oleh Daud as dari Allah swt. Rangkaian proses ini mencerminkan tahapan-tahapan pengembangan teknologi militer yang dibutuhkan oleh seorang raja dan negara.

Akhir kata, modernisasi persenjataan militer pada masa Nabi Daud as, sebagaimana terdapat dalam literatur klasik Islam, tidak bisa dipisahkan dari kerja-kerja intelijen. Ayat-ayat al-Quran dan tafsir-tafsirnya telah menjadi inspirasi umat muslim sepanjang masa untuk meningkatkan kualitas intelijen sebuah negara. Kemandirian dan kedaulatan negara sangat bergantung pada kekuatan militer negaranya, disamping tentu saja kedaulatan dan kekuatan militer sebuah negara membutuhkan sumbangsih besar kinerja intelijen-intelijen strategis, intelijen operasional maupun intelijen taktis negara tersebut. Wallahu a’lam bis sowab.

Mujahidin Nur
Mujahidin Nur
Mahasiswa Pascasarjana Sekolah Kajian Strategis dan Global, Universitas Indonesia, Anggota Komisi INFOKOM MUI, Direktur The Islah Centre, Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru