26.4 C
Jakarta

FKPT Jateng Sebut Banyak Sumber Belajar Digital Dikuasai Kaum Radikal

Artikel Trending

Harakatuna.com. Salatiga – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah mencatat banyak sumber-sumber belajar digital dikuasai kaum radikal. Ketua FKPT Jateng Prof. Dr. Syamsul Ma’arif mengatakan berdasarkan temuan FKPT diketahui banyak sumber belajar yang saat ini serba digital dan tidak otoritatif seperti kitab kuning, guru, kiai, ustaz telah dikuasai kelompok radikal.

“Penelitian BNPT-FKPT tahun 2019, menunjukkan terpaan konten agama di dunia digital direbut oleh kelompok dan kaum radikal,” sambut Ketua FKPT.

Untuk terpaan konten agama di Youtube ada 22,94 persen, Path 0,29 persen, Instagram 45,41 persen, Twitter 2,67 persen, WA 45,47 persen, Facebook 47,73 persen,” terangnya kepada Tribunjateng.com, disela worshop bertajuk ‘Varian Sumber Belajar Keagamaan Moderat Siswa Madrasah Aliyah di Era Disrupsi,’ di Grand Wahid Hotel, Salatiga, Kamis (14/1/2021)

Menurut Prof Syamsul, Balai Litbang Agama Semarang yang menekuni bidang penelitian diharapkan memperkaya teori tentang sumber belajar moderat. Sehingga, dapat digunakan peserta didik secara terpisah atau dalam kombinasi pembelajaran. Dan mampu menekan penyebaran paham menyimpang yang dikuasai oleh kaum radikal.

Ia menambahkan, untuk itu, learning resources bagi pemahaman keagamaan moderat harus dikuatkan misalnya gerakan Islam Wasathiyah atau Islam moderat harus menyediakan sumber belajar yang memiliki corak faham keagamaan mainstream umat Islam di Indonesia.

BACA JUGA  Polres Situbondo Kedepankan Sosialisasi Cegah Radikalisme

“Khusus untuk terorisme ada tiga hal yang dapat dijadikan patokan yakni kesiapsiagaan, counter radikalisasi, dan deradikalisasi.

Adapun kategori warga terpapar tertuang dalam Pasal 22 PP. Nomor 77 Tahun 2019 ayat 2,” katanya. Dekan FPK UIN Walisongo menegaskan, sumber belajar keagamaan moderat harus mengarah kepada pendidikan damai, Islam Indonesia, memiliki visi profetik, toleransi dan pluralisme.

Pihaknya menyatakan, contoh moderasi sejati seperti kearifan Masyarakat berupa ritual kepercayaan seperti adanya sesajen, kenduren, dan slametan harus dimasukkan ke dalam kurikulum.

BACA JUGA  Lawan Radikalisme dan Terorisme, ICMI Jabar Gelar Pelatihan Deradikalisasi

“Lalu bagaimana membangun ketahanan keluarga, masyarakat, dan pemerintah, merawat kebhinekaan, kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi pandemi dan gerakan radikal, peningkatan jejaring kerjasama, penguatan imunitas dan nasionalisme,” ujarnya

Tidak kalah penting lanjutnya, meningkatkan kewaspadaan atas penerbitan dan penerjemahan buku maupun kitab dan sumber belajar digital laiannya. karena saat ini ada hasil riset menemukan penerbit buku yang radikal.

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru