28 C
Jakarta

Saya Gusar dengan Ceramah Ustaz yang Menyebut Bencana Alam Diakibatkan Banyaknya Kezaliman

Artikel Trending

Sebuah perasaan sedih, kira-kira begitu saya mengawali tulisan atas duka mendalam ini tatkala melihat semakin banyaknya fenomena alam terjadi sejak awal tahun 2021. Belum selesai dengan Covid-19 yang sampai hari ini belum menemukan akhir atas segala perkembangannya, ditambah dengan banyak sekali fenomena alam,  turut menambah duka di awal tahun. Dikutip dari PMJ News, pada periode 1-18 Januari 2021, telah terjadi sebanyak 154 bencana alam di Indonesia.

“Kebanyakan berbentuk banjir, angin ribut dan longsor,” ujar Jubir Satgas Penanganan Covid-19 BNPB. Keterangan tersebut disampaikan oleh Wiku Adi Sasmito dalam keterangan persnya yang dilaksanakan secara virtual di Graha BNPB pada tanggal 19 Januari 2021.

Masih dalam keadaan berduka dengan berbagai kejadian yang terjadi hingga hari ini. Kondisi ini nyatanya tidak membuat para sebagian bergotong royong untuk membangun optimism bahwa Indonesia akan baik-baik saja. Masih ada kelompok menyalahkan suatu pihak, alih-alih yang terjadi masih sama, menimbulkan kericuhan di tengah kegalauan yang melanda masyarakat.

Apalagi yang paling membuat saya gusar ketika ceramah seorang ustaz menganggap bahwa bencana alam disebabkan oleh banyaknya kezaliman yang terjadi. Neno Warisman misalnya , penceramah kondang yang kerap tampil di layar kaca, menganggap bahwa bencana alam yang terjadi adalah akibat dari kezaliman yang ditampilkan oleh para pemimpin negeri ini.

“Alam respons terhadap kepemimpinan,” kata Ustazah Neno Warisman. Menurutnya, Allah menunjukan kasih sayang-Nya melalui musibah-musibah berupa bencana alam tersebut.

Lanjut Ustazah Neno Warisman, “Allah swt menunjukan rasa sayang kepada suatu bangsa bukan hanya dengan melimpahkan rezeki berupa kekayaan alam, tetapi juga berupa musibah. Musibah-musibah yang terjadi  adalah kemurkaan Allah swt atas banyaknya kezaliman suatu negeri. Jalan pikiran seperti ini dipahami sebagai kemarahan Allah atas suatu banyaknya kezaliman suatu negeri yang menyebabkan alam murka,” ucapnya melalui kanal YouTube miliknya.

Kalimat semacam ini rasanya kurang pantas disampaikan oleh seorang pemuka agama dalam kondisi duka di tengah masyarakat, apalagi menyalahkan pemerintah atas segala fenomena alam yang terjadi. Parahnya, para kelompok ini justru memanfaatkan momentum atas seruan kembalinya khilafah atas segala tindak-tanduk kejadian fenomena alam.

Dikutip dari muslimahnews.com, seruan atas kembalinya khilafah ini akan menjadi penerang atas segala fenomena alam yang terjadi. Sebab dari sekian banyak fenomena alam, ini disebabkan oleh kapitalisme. Seruan kembali pada sistem Islam yang mengatur segala kehidupan, termasuk pengelolaan menjamin bahwa sebuah negara akan aman tanpa bencana, sebuah negara tidak akan ada cacat jika menerapkan sistem khilafah di dalamnya, ini adalah jaminan mutlak tanpa tapi.

Bukankah Seharusnya Kita Membangun Optimisme kepada Masyarakat?

BACA JUGA  Hati-Hati! Radikalisme Sangat Rentan Terhadap Anak

Saya tidak ingin menegasikan bahwa segala bencana alam yang terjadi, tidak lain diakibatkan oleh perbuatan manusia itu sendiri. Namun, mengkambinghitamkan kejadian ini dengan seruan diterapkannya sistem khilafah adalah hal sangat tidak elok. Berdalih atas keserakahan pemimpin kapitalisme kemudian sistem khilafah menjadi penerang bagi negara yang terdampak bencana akibat kezaliman yang melanda merupakan narasi premature yang membuat masyarakat semakin menambah kegalauan.

BACA JUGA  Masa Depan Minoritas di Bawah Kepemimpinan Gus Yaqut

Seharusnya, selayaknya manusia yang beriman kepada Allah. Kita harus menjadi generasi optimis, bukan generasi yang pesimis, apalagi menjadi generasi yang menyalahkan orang lain atas kejadian yang terjadi atas kuasa Allah Swt. Introspeksi diri menjadi hal penting untuk melihat berbagai sisi atas kejadian yang baru-baru terjadi kepada saudara-saudara kita.

Perihal ini, Habib Husein Ja’far menanggapi berbagai fenomena yang terjadi pada masa kini bukan lantas menjadikan kita pesimis, akan tetapi sebaliknya. Tidak hanya itu, sebenarnya kita bisa melihat berbagai Kebaikan dari bencana itu bisa dilihat dari beberapa aspek, di antaranya: Kebaikan level hikmah, kebaikan yang megalamai apapun mengambil sudut kebaikan dari kejadian itu sendiri.

Misalnya, adanya Covid-19 justru membaca sudut baik dengan menganggap bahwa kehadiran Covid-19 justru memberikan kesempatan manusia untuk muhasabah, melihat sudut positif dari sebuah peristiwa. Adanya bencana gunung meletus membuat tanah subur, masyarakat semakin hati-hati, tidak membuang sampah sembarangan serta berperilaku hidup bersih dan sehat.

Aspek kebaikan lainnya, adalah menganggap bahwa bencana yang terjadi adalah rahasia kebaikan yakni hukum Allah (sunnatullah). Kita akan sampai pada pemahaman bahwa segala yang terjadi di muka bumi adalah kehendak Allah Swt. Semoga dengan segala yang terjadi, bisa mengambil sisi baik di dalamnya. Amin Yaa Robbal ‘Alamin.

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru