28 C
Jakarta

BNPT Sebut Radikalisme Lebih Halus dan Mematikan daripada Virus

Artikel Trending

Harakatuna.com. Jakarta – Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid menyatakan  radikalisme yang  lebih halus dan mematikan dari pada virus. Karena itu, orang yang sudah terpapar radikalisme tidak menyadarinya. 

“Kalau dalam Covid-19, kita disebut orang tanpa gejala (OTG). Gejala awal orang yang terpapar radikalisme ini ketika seseorang muncul kekecewaan atau kebencian terhadap kemarahan situasi terhadap dan kondisi yang ada, ”ujar Ahmad dalam webinar penanggulangan radikalisme yang diselenggarakan Forum Human Capital Indonesia (FHCI) yang dipantau di Jakarta, Rabu (20/1) .

Kekecewaan yang timbul tersebut bisa disebabkan kekecewaan pada pemerintah atau pada pemimpin. Dia mengibaratkan radikalisme sama dengan virus HIV / AIDS, yang mana yang melemahkan ketahanan tubuh penderitanya, sedangkan radikalisme melemahkan ketahanan berbangsa dan bernegara.

“Secara perlahan tapi pasti suatu bangsa dan negara bisa hancur, jika elemen radikalisme masuk ke dalam negara yang membuat sistem menjadi lemah dan tidak berfungsi dengan baik,” jelas dia.

Ia menyebut radikalisme sebagai paham yang memperbarui pembaharuan drastis dengan kekerasan. Sementara, terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan terorisme atau rasa takut secara meluas dan dapat menimbulkan korban yang mematikan secara massal.

Ia menyatakan, pemicu radikalisme dan  terorisme  adalah politisasi agama, pemahaman agama yang menyimpang, intoleransi, kemiskinan dan kebodohan, keberatan dan ketidakadilan, sistem politik dan hukum lemah, serta kondisi psikologi mental. Potensi radikal bisa mencakup semua agama, sekte, kelompok maupun individu manusia, baik yang berstatus sebagai ASN, TNI, Polri, dan seluruh elemen masyarakat.

Hasil riset Alvara Center dan Mata Air Foundation menunjukkan 23,4 persen mahasiswa setuju jihad untuk khilafah, sebanyak 18,1 persen pegawai swasta tidak setuju Pancasila, sebanyak 9,1 persen pegawai BUMN tidak setuju Pancasila, sebanyak 23,3 pelajar SMA setuju jihad untuk khilafah, dan 19,4 persen PNS tidak setuju Pancasila. Karena itu, dia mendorong agar perusahaan BUMN turut terlibat dalam mencegah masuknya paham radikal di perusahaannya. Apalagi BUMN merupakan ketahanan ketahanan ekonomi bangsa.

“Hati-hati dalam memberikan bantuan CSR, karena kami memantau ada dana CSR dari perusahaan BUMN maupun kementerian yang terindikasi lari ke kelompok radikal. Mungkin ada oknum yang terlibat atau mungkin juga tidak tahu, ”jelas dia lagi.

Deputi Bidang SDM, Teknologi dan Informasi Kementerian BUMN, Alex Denni, mengatakan saat ini perusahaan di lingkungan memiliki nilai inti yang sama yakni AKHLAK. AKHLAK merupakan singkatan dari Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif.

Alex mengatakan budaya AKHLAK menjadi pondasi yang kuat agar setiap perusahaan BUMN tidak tercerabut dari akarnya serta terselamatkan dari virus radikalisme yang mematikan. “Kita tahu sebelum ada AKHLAK ini, setiap perusahaan BUMN memiliki core value masing-masing. Dengan adanya AKHLAK ini, dengan fondasi yang sama bisa bertahan lama dan memudahkan dalam mobilitas tenaga kerja, ”jelas Alex.

Dalam kaitannya dengan radikalisme, ada nilai dari AKHLAK yang relevan yakni Harmonis dan Loyal. Alex mendorong perusahaan BUMN untuk saling peduli dan menghargai perbedaan, serta mengutamakan kepentingan bangsa diantara kepentingan golongan.

“Kita optimistis pada masa depan perusahaan BUMN dapat tumbuh dengan baik. Meski demikian, kita juga perlu mewaspadai adanya dinamika yang terjadi yang jika dibiarkan dapat menghambat pertumbuhan perusahaan BUMN, ”imbuh Alex.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru