33.2 C
Jakarta

Bergelut dengan Retorika Idiot Rocky Gerung

Artikel Trending

Siapa yang tidak kenal dengan pengamat politik yang satu ini? Rocky Gerung terkenal setelah dirinya sering tampil di Indonesia Lawyers Club (ILC) di TVOne, yang hari ini berhenti tayang. Namun, tidak lagi tayangnya ILC bukan membuat dirinya tidak bersuara. Kritik pedasnya tetap berlanjut. Sesekali di program TV swasta, dan yang paling sering adalah melalui kanal YouTube miliknya sendiri: Rocky Gerung Official. Satu kata yang menjadi ciri khasnya, yaitu umpatan “dungu”.

Rocky bukan kedap pemeriksaan polisi. Dirinya pernah diinterogasi berjam-jam oleh kepolisian, tetapi tidak pernah sampai mendekam di penjara. Kalau kita amati, ia licin melalui retorika. Bidang filsafat yang ia ahli di dalamnya, membuat kepolisian—barangkali—tidak menemukan celah. Atau dengan bahasa yang gamblang: kalah argumentasi. Ia piawai mengolah kata yang retoris, menjadikan penghinaan seolah bukan penghinaan. Apakah kata “dungu” belum cukup menghina?

Kurang sadis apa umpatan Rocky Gerung. Ia, selain kerap kali mendungukan Presiden Jokowi, mengatakan IQ pemerintah 200 sekolam, terbaru ia juga meminta otak Presiden direvisi. Salah satu pecinta Presiden pun menanggapinya. “Kelewatan, pertama dia rakyatnya, kedua dia orang yang berpendidikan, di mana moralnya sebagai pendidik? Kalau seandainya pendukung Jokowi masuk dalam kategori Antar Golongan dalam pasal 28 ayat 2 UU ITE saya siap laporkan!,” cuit Husin Shihab.

Sebenarnya, kita, para pendengar Rocky, atau penikmat umpatannya, itu terkecohkan keideotan dirinya sendiri. Segala yang datang dari pemerintah tidak pernah ia apresiasi. Selalu salah. Retorika Rocky selalu dalam premis ‘kedunguan pemerintah’ vis-à-vis ‘kehebatan Rocky Gerung’. Padahal, dengan premis yang paten tersebut, secara sadar atau tidak, ia telah terjerumus ke level ‘pengamat politik yang idiot’. Lalu kita terkesima dengan keidiotan tersebut karena nafsu ingin menjadi oposisi.

Rocky Gerung Sebagai Oposan

Tidak salah menjadi oposisi. Demokrasi memberi ruang kebebasan berpendapat, berekspresi terhadap kekesalan. Masalahnya, seseorang tidak bisa berlindung di balik retorika semata. Selain pesannya belum tentu tersampaikan, juga itu bertendensi mencederai filsafat itu sendiri. Terjadi peyorasi, seolah retorika tidak memiliki fungsi selain melindungi diri sendiri dari jeratan sanksi. Rocky Gerung mengkritik menggunakan retorika, tidak lain karena ia ingin mengkritik tetapi sekaligus melindungi dirinya sendiri.

Ia hanya bermain olah kata. Ngibul, istilahnya. Statemennya berputar-putar. Ia ingin mengelabui pendengarnya, seolah ia ahli filsafat yang top. Rocky Gerung menjadi oposisi yang setengah-setengah. Pemberani sekaligus penakut, juga menjadi idiot dari bidang keilmuannya sendiri. Mengingat posisinya sebagai oposisi, ia harusnya menyadari bahwa kritiknya sekadar menimbulkan kegaduhan belaka. Alih-alih efektif, justru ia menyeret kita bergelut dengan retorika idiotnya.

BACA JUGA  FPI dan Laskar “Hidup Mulia atau Mati Syahid” yang Naif

Mulai sekarang, sebaiknya kita tidak terjerumus ke dalam narasi oposan yang absurd. Kalau memang ingin mengkritik pemerintah, kita bisa mengkritiknya dengan pelan dan arif. Kalau kita terjerat perkara dengan buzzer, penggaung Presiden, maka publik sudah tahu bahwa yang kita lakukan adalah sebuah kebenaran. Buktinya, beberapa kritik arif dari oposisi selain Rocky Gerung, yang kemudian mendapat respons cemoohan buzzer, publik juga mendesak Presiden menertibkan para penggaungnya.

BACA JUGA  Keulamaan Habib Rizieq di Tangan Premanisme FPI

Buzzer itu ada yang dibayar, dan ada juga yang terkadung fanatik. Misalnya, lahirnya ‘kadrunisasi’ yang justru blunder kepada buzzer itu sendiri. Publik bisa melihat mana yang benar, dan mana yang tidak. Tetapi dalam konteks Rocky Gerung sebagai oposan, dengan statemennya yang absurd, bahkan idiot, tidak ada empati dari publik. Selain Rocky telah gagal dengan kritiknya sendiri, ia juga rugi karena publik justru membaca dirinya sebagai filsuf idiot. Sayang sekali.

Kritik dan Moral

Respons Husin Shihab dengan pendunguan Presiden yang Rocky Gerung lakukan adalah dalam rangka menegaskan pentingnya moral dalam sebuah kritik. Kritik yang tidak bermoral, itu namanya pekerjaan orang idiot. Ia mengenyampingkan efektivitas sebuah kritik karena terlanjur terbawa rasa kesal—pokoknya harus mengumpat. Dengan demikian, mulai sekarang, kesadaran publik tentang pentingnya moral dalam kritik harus menjadi penekanan.

Retorika idiot Rocky Gerung harus segera kita tinggalkan. Serepresif apa pun pemerintah, atau para buzzer, dengan iklim kebebasan berekspresi, bisa kita sikapi dengan narasi tanpa umpatan. Tidak peduli seahli apa Rocky dalam Filsafat dan retorika, itu tidak ada gunanya jika moral diabsenkan lantaran keahliannya menyiasati statemen. Ini bahkan gawat bila berlanjut dan menjadi umum di muka publik. Filsuf idiot seharusnya bukan kita kagumi. Meluruskannya, itulah kewajiban kita.

Bangsa ini, dari sejarahnya, adalah bangsa yang mengedepankan moral. Sejak kapan retorika menjadi tameng keidiotan seseorang? Mulai sekarang, laiknya kita hentikan kegaduhan. Kritik harus bersamaan dengan moral. Kalau kita meniru filsuf idiot seperti Rocky Gerung, bukankah kita idiot juga?

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru