28 C
Jakarta

Bagi Gus Baha, Islam itu Fleksibel dan Luwes

Artikel Trending

Kini ingatan saya masih kuat tentang sebuah pesan yang disampaikan guru es-de tempo dulu. Pesannya cukup sederhana, tapi makna di balik pesan ini amat sangat dalam. Bunyi pesannya begini: “Nak, jadilah seperti tanaman padi. Makin berisi, makin merunduk.”

Pesan yang cukup sederhana ini mungkin sangat sulit dijangkau makna filosofinya. Seorang guru itu menjelaskan: “Padi itu makin berisi makin merunduk. Maksudnya tawaduk. Tidak sombong. Tidak congkak. Orang berilmu harus meniru pohon padi ini.”

Mungkin makna filosofi tanaman padi ini dulu seringkali dikaitkan dengan pentingnya bersikap tawaduk saat berilmu. Jangkauan pesannya seakan sempit sebatas persoalan ilmu. Tidak lebih dari itu. Padahal, saat direnungkan begitu dalam pesan guru itu begitu luas, terlebih dikaitkan dengan eksistensi Islam.

Seorang tokoh muda Gus Baha menjadikan filosofi tanaman padi sebagai gambaran Islam berpijak dan berkembang di Indonesia. Katanya, “Islam di Arab itu seperti pohon kurma, kokoh tidak mudah roboh. Sementara, Islam di Indonesia seperti tanaman padi, lembek tapi fleksibel, juga tidak mudah roboh.”

Gus Baha memang lulusan pesantren, belum pernah belajar di perkuliahan. Tapi, jangkauan pengetahuannya cukup mendapat perhatian dari banyak publik. Gus Baha mampu melihat peta Islam di Indonesia. Tentunya, Islam Indonesia tidak sama dengan Islam di Arab, kendati Islam pertama kali diperkenalkan di sana.

Islam itu, seperti pesan Gus Baha, fleksibel. Luwes. Mudah beradaptasi. Maksudnya, Islam itu relevan dihadapkan dengan perkembangan zaman. Keluwesan Islam di Indonesia dapat digambarkan dari dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah. Di tangan NU relevansi Islam diperlihatkan dengan hadirnya warna Islam Nusantara. Sedang, di tangan Muhammadiyah relevansi Islam dihadirkan dengan munculnya Islam progresif.

Dua organisasi ini cukup memberikannya warna Islam yang arif, yang kalau meminjam istilah di pesantren, “shalih li kulli zaman wa makan (relevan dalam setiap situasi dan kondisi”. Kurang lebih begini Islam yang dikehendaki oleh Nabi Muhammad sebagai pembawa doktrin Islam di muka bumi. Islam radikal tentu berseberangan dengan Islam tersebut.

BACA JUGA  Pesantren dan Radikalisme: Catatan Kritis Untuk Kita Semua

Islam radikal sesungguhnya bukan Islam. Karena, Islam itu melarang paham dan aksi-aksi radikal. Semisal, aksi-aksi terorisme dan demonstrasi yang mengatasnamakan Islam. Radikalisme bagaimana pun alasan dan bentuknya tetaplah musuh Islam. Jadi, seorang muslim yang baik hendaknya menghindari paham dan aksi-aksi radikal.

Sekian kelompok di Indonesia yang terjebak propaganda paham radikal meliputi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), dan Negara Islam Indonesia (NII). Ketiga kelompok ini dilarang diikuti oleh orang Indonesia. Sehingga, baru-baru ini pemerintah tidak segan-segan membubarkan FPI karena misinya sudah keluar dari batas-batas Islam yang fleksibel di Indonesia.

BACA JUGA  NU dan Muhammadiyah Membela Indonesia dari Serangan Paham Radikal

Islam yang sejati selalu mengajarkan nilai-nilai perdamaian dan persatuan persis seperti pesan yang terbentang dalam lima Pancasila. Perdamaian dan persatuan penting ditegakkan karena Islam di Indonesia tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang majemuk: ada yang muslim, ada yang non-muslim. Jika Islam tidak mengindahkan perdamaian dan persatuan, maka Indonesia akan hancur. Padahal, menjaga keutuhan tanah air itu wajib.

Islam yang fleksibel itu, pesan Gus Baha, tidak mudah roboh. Berdiri tegak. Kokoh. Kekokohan Islam fleksibel (moderat) disebabkan kebenarannya. Kebenaran seperti yang disinggung dalam Al-Qur’an tidak akan roboh. Sementara, kebatilan pasti akan musnah. Buktinya, NU dan Muhammadiyah yang sama-sama menyebarkan Islam dengan cara yang arif dan benar. Sampai detik ini kedua organisasi ini masih berdiri tegak dan eksis.

Berbeda, FPI memang sering menggaungkan Islam. Seakan FPI paling muslim dibanding yang lain. Saking pe-de-nya orang-orang FPI merasa paling pantas masuk surga. Padahal, itu semua hanyalah keangkuhan mereka. Surga itu hak prerogatif Tuhan.  Hanyalah Tuhan yang menentukan status hamba-Nya nanti akan masuk ke mana: surga atau neraka. Kebatilan yang dilakukan FPI menyebabkan organisasi sok kuat ini merengek dan tersungkur di kaki pemerintah.

Sebagai penutup, Islam itu berlawanan dengan radikalisme. Islam itu adalah agama yang fleksibel dan luwes. Keluwesan Islam menjadikan agama semitik ini dapat diterima di tengah-tengah masyarakat.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru