26.4 C
Jakarta

Alissa Wahid Berbagi Tips Tangkal ”Penyakit” Virus Informasi

Artikel Trending

Harakatuna.com. Sleman Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau Alissa Wahid mengatakan bahwa saat ini memang sulit untuk menghindari banjirnya informasi, khususnya dari internet. Karenya yang harus dilakukan adalah tindakan yang dilakukan oleh diri kita sendiri, tidak bisa dari luar. 

Ancaman covid-19 memang belum selesai, tetapi ada harapan bahwa pandemi akan segera mereda dengan kabar hadirnya vaksin. Namun demikian, hoax seputar vaksian covid-19 juga sekencang ancaman virusnya. Karena, di samping butuhnya vaksinasi untuk menjaga imunitas fisik, penting juga untuk melakukan vaksinasi nalar kepada masyarakat agar tidak mudah dipasang hoax.

Istilahnya bagus sekali, vaksinasi terhadap banjir informasi, karena dari banjir informasi itu ada informasi yang baik dan ada yang tidak. Nah hoax masuk dalam informasi yang tidak baik, ‘penyakit’, virus informasi. Karena itu harus dilakukan dengan vaksin di dalam tubuh, ”ujar Alissa Wahid di Sleman karyawan yang diterima redaksi, Selasa (19/01/2021).

Alissa melanjutkan, bahwa masyarakat harus dibiasakan untuk berpikir kritis. Karena menurutnya jika kita terbiasa untuk kritis maka kita tidak asal menerima informasi yang ada. Ia mencontohkan kalau informasi tentang Covid-19, maka sumber yang kredibel adalah pemerintah dan juga dari ahli medis, kalau dari yang lain harus dicek terlebih dahulu.

”Contoh lainnya misalnya tentang terorisme ektrimisme yang lalu ada ajakan untuk melakukan hal-hal yang muatannya adalah kebencian, maka kita perlu melihat lagi ‘dalam agama kita mengajarkan kebencian apa tidak ya? kan tidak. Berarti itu informasi yang tidak benar. Itu vaksin yang pertama, ”tutur anggota tim ahli Gugus Tugas Nasional Gerakan Revolusi Mental Kemenko PMK ini mencontohkan.

Lalu vaksin yang kedua, menurut Alissa mencari guru agama, terutama kalau yang terkait dengan agama dan ideologi harus yang mumpuni, jangan asal ambil dari internet. Menurutnya, kita harus memastikan bahwa guru agama tersebut adalah orang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi dan aktif. Kemudian jika terkait dengan ideologi negara, maka informasi itu kita ukur juga.

”Kita cek apakah ideologi tersebut sesuai dengan Pancasila atau tidak? Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 atau tidak? Kalau tidak sesuai berarti kita tolak. Itu vaksi yang kedua. Lalu vaksin yang ketiga itu adalah apakah informasi ini selaras dengan apa yang digariskan oleh pemerintah, ”jelasnya.

Lebih lanjut, putri sulung dari Presiden RI ke-4 alm KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyampaikan bahwa hoax dapat dibagi menjadi 2 kategori. Pertama yang berasal karena orang iseng dan kedua ada orang yang memang secara ideologi sedang memperjuangkan agenda tertentu. Menurutnya, kalau hoax yang iseng itu biasanya dibuat oleh anak-anak untuk seru-seruan mereka.

”Mereka belum punya rasa tanggung jawab terhadap hidup bermasyarakat. Hal yang seperti ini yang mengesalkan dan bisa dilarang. Karena itu anak muda harus ingatkan untuk tidak sembarangan membuat bercadaan atau konten yang jutru menimbulkan keresahan, ”ucap Alissa.

 

BACA JUGA  Sejumlah Ormas dan Ulama Mojokerto Dukung Kebijakan Pembubaran FPI
Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru